Etika Bisnis

Terdapat beberapa teori etika yang dirumuskan oleh para ahli, namun untuk teori etika periklanan, hanya beberapa teori etika saja yang sesuai dan dapat diterapkan dalam periklanan. Adapun yang termasuk dalam teori etika periklanan adalah sebagai berikut : 1. Deontologi Kata deontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu deon yang berarti kewajiban atau tugas dan logo yang berarti ilmu atau studi. Dalam filsafat moral kontemporer, deontologi adalah salah satu dari jenis teori normatis mengenai pilihan mana yang secara moral diperlukan, dilarang, atau diizinkan. Dengan kata lain, deontologi berada dalam domain teori-teori moral yang memandu dan menilai pilihan kita tentang apa yang seharusnya kita lakukan. Filsuf yang mengikuti dan akhirnya menjadi tokoh sentral deontologis adalah Immanual Kant. Filosofi Kant menyatakan bahwa penalaran moral didasarkan pada standar rasionalitas yang disebut dengan imperatif kategoris. Imperatif kategoris dimaksudkan untuk membimbing kita ke arah tindakan yang benar, terlepas dari keadaan. Tokoh deontologis lainnya adalah W.D Ross yang meyakini bahwa permasalahan moral tidak dapat direduksi menjadi satu pertanyaan mendasar. Ross mengusulkan teori deontologi campuran yang mengakui hubungan moral, tugas, dan prinsip yang tidak dapat direduksi. Ross mengembangkan tujuh tugas prima yang perlu diperhitungkan dalam menentukan apakah suatu tindakan adalah tindakan yang benar. Menurut Ross, kita harus memenuhi tugas prima kecuali jika mereka bertentangan dengan tugas prima lain yang lebih berat. Penerapan teori deontologi dalam periklanan adalah bahwa pengiklan hendaknya bertindak berdasarkan niat baik dalam menjalankan tugasnya. Namun, tak jarang kita temui hal yang sebaliknya. Teori ini dikritik karena terlalu sederhana dan tidak mempertimbangkan aspek perbedaan budaya. Sebagaimana kita pahami bahwa latar belakang budaya mempengaruhi nilai-nilai moral yang dimiliki seseorang. Dengan demikian, nilai moral setiap orang tidaklah sama. 2. Komunitarianisme Komunitarianisme adalah filsafat yang berakar dari Aristotelian dan Hagelian yang menekankan perlunya menyeimbangkan hak individu dengan kepentingan komunitas secara keseluruhan. Komunitarianisme menekankan konsep liberalisme tentang orang yang otonom dan mementingkan diri sendiri, dengan mencirikan individu sebagai makhluk sosial yang dibentuk oleh nilai-nilai dan budaya komunitas mereka. Menurut teori ini, pemikiran etis didasarkan pada nilai-nilai komunal, standar dan tradisi sosial yang mapan, dan mempertimbangkan masyarakat yang lebih besar. Kaum komunitarian menekankan pengaruh masyarakat pada individu dan berpendapat bahwa nilai-nilai berakar pada sejarah dan tradisi umum. Premis utama komunitarianisme adalah pengakuan masyarakat sebagai jaringan komunitas yang saling bersinggungan dengan nilai-nilai dan standar moral yang berbeda. Kunci untuk menyelasikan pertanyaan dan konflik etika terletak pada penghormatan terhadap nilai-nilai local yang menunjukkan pertimbangan yang hati-hati dan penerimaan masyarakat setempat. Pertimbangan juga diberikan untuk keselarasan umum dan akuntabilitas dengan nilai-nilai masyarakat yang lebih besar. Namun, sistem aturan moral komunitas tertentu paling baik dipahami dalam konteks pandangan masyarakat saat ini dan historis tentang kesejahteraan sosial dan kepentingan sosial terkait, memberikan tingkat relativisme budaya tertentu pada perspektif ini. Penerapan teori komunitarianisme dalam periklanan adalah ketika orang-orang memperhatikan iklan, maka setiap orang tidak akan memiliki pendapat. Beberapa orang mungkin menyukainya atau membenci dan lain-lain. Teori ini dipandang kurang sesuai untuk menjelaskan etika periklanan. 3. Utilitarianisme Utilitarianisme adalah salah satu teori etika normatif yang didasarkan atas kemampuan seseorang untuk memprediksi konsekuensi dari sebuah tindakan. Tokoh-tokoh yang menganut utilitarianisme diantaranya adalah Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Terdapat dua macam teori utilitarianisme yaitu act-utilitarianism dan rule utilitarianism. Act-utilitarianism – prinsip utilitas diterapkan secara langsung ke setiap tindakan alternative dalam situasi pilihan. Tindakan yang benar kemudian didefinisikan sebagai tindakan yang menghasilkan hasil terbaik. Rule utilitarianism – prinsip utilitas digunakan untuk menentukan validitas aturan perilaku atau prinsip-prinsip moral. Sebuah aturan dibangun untuk mencari manfaat bagi sebagian besar orang melalui cara yang paling adil. Menurut Kim dan Kim (2017), nilai etis utilitarianisme menekankan peningkatan utilitas pribadi dan sosial dalam kehidupan berbasis tujuan. Utilitarianisme merupakan konsep yang secara fundamental memberi makna pada kebahagiaan yang memuaskan mayoritas dan hasil dari tindakan yang diinginkan. Dalam periklanan, nilai etis utilitarianisme mempertimbangkan tindakan komunikasi dalam bisnis periklanan sebagai sebuah metode untuk mencapai tujuan yang diinginkan yaitu kepuasan dan kebahagiaan konsumen. Nilai etis berbasis utilitarianisme dalam periklanan adalah nilai yang harus dijaga oleh pengiklan. Manfaat Mempelajari Teori Etika Periklanan Mempelajari teori etika periklanan dapat memberikan beberapa manfaat, diantaranya adalah : Kita dapat mengetahui dan memahami pengertian periklanan. Kita dapat mengetahui dan memahami pengertian etika. Kita dapat mengetahui dan memahami pengertian etika periklanan. Kita dapat mengetahui dan memahami berbagai teori etika periklanan yang diadaptasi dari teori-teori etika. Sumber : https://www.google.com/amp/s/pakarkomunikasi.com/teori-etika-periklanan/amp Komunitarianisme didasarkan pada tiga prinsip. Prinsip pertama adalah setiap klaim kebenaran divalidasi melalui penyelidikan kooperatif. Prinsip kedua adalah komunitas penyelidikan kooperatif harus memvalidasi nilai-nilai bersama yang menjadi dasar tanggung jawab semua anggota masyarakat. Kemudian prinsip yang ketiga adalah bahwa semua warga negara harus memiliki akses dan partisipasi yang sama dalam struktur kekuasaan masyarakat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

UTS Etika Bisnis

Contoh Perusahaan yang Sudah Menerapkan Etika dalam Berbisnis